Unduh gratis pdf Joko Sableng 08 - Tabir Asmara Hitam
Joko Sableng 08 - Tabir Asmara Hitam
By:Zhaenal Fanani
Published on 2018-09-23 by Sultannara
Halo sobat gimana kabarnya teman mari kita baca novel berkualitas ini mudah mudahan bisa menghibur dengan membaca buku wawasan kita semakin bertambah dan juga mendapatkan ilmu baru.untuk link nya dan sinopsis atau deskripsi buku ada di bawah ya untuk cara baca bisa di lihat di bagian preview ya, masih banyak buku2 berkualitas lainnya di website ini sampai jumpa di post lain nya thanks
PADA satu tanah agak menggugus masing-masing orang melihat seraut wajah tampan milik seorang pemuda. Sepasang matanya tajam. Hidungnya mancung. Namun bukan karena ketampanan raut si pemuda yang membuat semua orang tersentak dan pentangkan mata masing-masing. Ternyata pemuda ini tidak berdiri tegak dengan berpijak pada kedua kakinya. Sebaliknya sepasang kakinya berada di atas, sementara kepalanya di bawah menopang tubuhnya! Pada mulutnya tampak sebuah karet bundar seperti dot bayi yang sesekali disedot. Setiap kali si pemuda gerakkan mulut menyedot, terdengar suara duutt! Duuuttt! Duuuttt! Dan lebih dari itu, ternyata pemuda ini tidak mempunyai tangan! Anehnya, meski tegak dengan kaki di atas dan kepala di bawah, namun pakaian yang dikenakan tidak menyibak ke bawah. Dan kedua lengan pakaiannya yang kempes karena tak berisi tangan, tampak kaku ke samping kiri kanan. Selagi semua orang di situ masih tegak dengan terkesima dan mulut terkancing, Daeng Upas yang gerakannya untuk lakukan totokan pada Pendekar 131 tertahan malah sosoknya tersurut dua langkah laksana terbang segera berkelebat ke arah si pemuda yang tegak terbalik dan langsung lepaskan dua jotosan dari jarak empat tangkah! Seakan tahu pukulan Daeng Upas yang dapat lakukan jotosan atau tendangan walau dari jarak jauh, si pemuda gerakkan dua bahunya sebelum kedua tangan Daeng Upas bergerak. Sepasang lengan baju si pemuda bergerak kebawah mengibas tanah. Bettt! Bettt! Pada saat bersamaan, sosok si pemuda melenting ke udara setanggi dua tombak. Membuat gerakan jungkir balik satu kali, lalu mendarat di atas tanah dengan bertumpu pada kedua ibu jari kakinya! Daeng Upas tegak di atas tanah dengan wajah tegang dan rahang terangkat. Sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi meski selama ini tidak ada orang yang mengetahui, dari sikap dan gerakan si pemuda, nenek yang wajahnya masih membayang kecantikan ini telah maklum jika si pemuda bukanlah orang yang dapat dipandang sebelah mata. Di sebelah depan, murid Pendeta Sinting perhatikan baik-baik ke arah si pemuda. |Sulit dipercaya jika tidak melihat sendiri. Rimba persilatan ternyata tidak hanya disarati urusan aneh. Tapi juga dikelilingi manusia-manusia aneh!| batinnya. Agak ke samping. Raka Pradesa sipitkan sepasang matanya dengan dahi berkerut. Diam-diam dia juga berkata dalam hati. |Banyak tokoh-tokoh yang kukenal meski hanya lewat ciri-cirinya. Namun ciri-ciri pemuda ini belum pernah kudengar! Apakah dia tokoh yang baru saja muncul? Atau selama ini dia tidak menunjukkan kepandaiannya hingga namanya tidak banyak dikenal kalangan dunia persilatan?!| Seperti halnya Pendekar 131 dan Raka Pradesa. Dewi Siluman juga terlihat menduga-duga siapa adanya si pemuda. Entah karena tak dapat jawaban dari dirinya sendiri, perempuan bercadar dan berjubah hitam anak Daeng Upas ini segera berpaling pada Ki Buyut Pagar Alam yang berada di sampingnya sambil bergumam. lagi |Siapa pemuda buntung itu, Ki Buyut?!| Kakek berwajah pucat yang kedua tangannya selalu masuk ke dalam saku jubah hitamnya yang juga adalah adik kandung Daeng Upas berpaling dengan gelengkan kepala. |Berpuluh tahun merambah rimba persilatan, baru kali ini aku melihatnya! Telingaku pun belum pernah mendengar orang membicarakan pemuda seperti dia. Tapi melihat usianya, kukira dia orang yang baru dalam kancah dunia persilatan. Hanya saja dia memiliki kepandaian sangat tinggi....| Mendengar ucapan Ki Buyut, Dewi Siluman perdengarkan dengusan. |Urusan ini belum selesai. Ke- munculannya akan menambah keadaan tidak karuan! Kita be!um tahu benar apakah pemuda buntung ini benar-benar mempunyai ilmu tinggi. Sebaiknya dia kita singkirkan dahulu!| |Di sini ada ibumu. Kita tunggu dulu apa yang hendak dilakukan olehnya!| |Tapi....” Ucapan Dewi Siluman belum selesai, Ki Buyut telah memotong. |Kau tak usah khawatir. Orang-orang selama ini memang tidak tahu sampai di mana Ilmu yang dimiliki Ibumu. Hingga ibumu hanya dipandang mata terpejam...,| Ki Buyut Pagar Alam tertawa pelan. Lalu lanjutkan ucapannya. |Sebentar lago mereka akann sadar bahwa dugaan mereka jauh meleset “. Sementara Daeng Upas sendiri setelah dapat kuasai rasa kejut dan geramnya maju satu langkah. Nenek ini sebenarnya masih panasaran dan ingin lakukan serangan lagi. Namun berfikir bahwa urusan mengorek keterangan Pendekar 131 yang baru dilihatnya saat hendak berusaha masuk ke Istana Hantu lebih penting, maka dia urungkan niatnya. Sebaliknya dia segera keluarkan bentakan. |Pemuda tak dikenal? Siapa kau?! Mengapa kau berlaku lancang menahan gerakanku? Apa hubunganmu dengan pemuda berpakaian putih itu?!| Jari tangan Daeng Upas lurus menunjuk pada murid Pendeta Sinting yang masih duduk di atas tanah. Pemuda bertangan buntung kempotkan pipinya menyedot karet bundar di mulutnya. Hingga saat itu terdengar suara duuttt! Duuttt! Duuttt! Sepasang mata Daeng Upas membeliak besar. Dadanya bergemuruh keras melihat orang yang ditanya tidak segera menjawab sebaliknya malah permainkan dot di mulutnya! |Keparat! Kalau kau tidak jawab pertanyaanku, lekas menyingkir dari sini! Jika tidak, membunuhmu bukan hal sulit bagiku!| Orang yang dibentak memandang sekilas pada Daeng Upas. Lalu tengadah dengan pipi mengembung. Saat meniup, karet di mulutnya mencuat keluar dan mengapung di udara. Mulutnya lalu bergerak dan terdengarlah ucapannya. |Nenek cantik. Tiga pertanyaanmu, mungkin aku hanya bisa menjawab dua. Untuk satunya biarlah sementara ini menjadi pekerjaan rumah buatmu! Harap kau tidak marah dan setuju usulku!| Sementara berkata, karet bundar mirip dot bayi tetap mengapung di atas kepalanya, membuat semua orang di tempat itu makin beliakkan mata kecuali Daeng Upas yang kesabarannya hampir-hampir saja pupus. |Aku telah bertanya. Aku tak mau tahu usul! Yang kuminta jawaban!| kata Daeng Upas dengan suara keras setengah menjerit. |Aku akan menjawab. Aku tak mau tahu kau terima usulku apa tidak!| ujar pemuda bertangan buntung. Lalu tanpa hiraukan sengatan pandangan Daeng Upas dia teruskan kata-katanya. |Aku bukannya lancang mencegah tindakan orang. Hanya aku tidak suka melihat orang berlaku semena- mena pada orang yang sudah tidak berdaya! Perlu juga kau ketahui, aku tidak kenal dengan pemuda berbaju putih itu! Kalau tidak kena! Apakah mungkin punya hubungan?!| Si pemuda balik bertanya. |Kau tak punya hak untuk bertanya padaku:| hardik Daeng Upas. |Kau belum mengatakan siapa dirimu!| Si pemuda bertangan buntung lancipkan mulut menyedot. Dot bayi yang mengapung di atas kepalanya bergerak turun dan masuk ke dalam mulutnya. Kejap kemudian terdengar suara duuttt! Duuuttt! Berulang kali. Di lain saat si pemuda hembuskan napas. Bundaran karet di mulutnya mencelat lagi dan seperti tadi mengapung di atas kepalanya. Bersamaan dengan itu terdengar ucapannya. |Seperti kukatakan tadi, aku hanya bisa jawab dua pertanyaanmu. Untuk jawaban satunya mungkin kelak jika kita jumpa lagi masih bisa kujawab!| Daeng Upas masih coba menindih gejolak amarahnya. Lalu menyeringai sambil berkata. |Hem.... Begitu? Sekarang kuperintah kau untuk tinggalkan tempat ini!| |Hem.... Begitu!| Si pemuda ikut-ikutan berkata seperti ucapan Daeng Upas. |Kau mengatakan aku tak punya hak bertanya padamu. Sekarang apa salah jika aku mengatakan kau tak berhak memerintahku?!| |Itu awal petaka bagimu!| teriak Daeng Upas. Si pemuda kembang kempiskan pipinya. Bundaran karet di atas kepalanya bergerak turun naik seirama keluarmasuknya napas si pemuda. Anehnya meski bundaran karet itu turun naik di udara, namun pada saat itu terdengar juga suara duuttt! Duuuttt! Duuutt! |Wah. Nenek ini bukan hanya fcetap cantik meski sudah tua, tapi pandai juga bikin malapetaka. Apakah kau juga bisa membuat hura-hura, Nek?!| Yang buka suara adalah murid Pendeta Sinting. Daeng Upas sentakkan kepalanya ke arah Pendekar 131. tubuhnya bergetar pertanda dia menahan hawa marah. Tangan kirirya menunjuk pada murid Pendeta Sinting |Kau jangan ikut campur buka mulut! Nanti ada saatnya kau harus bicara jswab semua pertanyaanku!| sentaknya. |Hem.... Begitu?!| Joko ikut bicara seperti pemuda bertangan buntung yang menirukan gumaman Daeng Upas. |Kau nanti akan ajukan berapa pertanyaan. Nek?!| Daeng Upas tidak menjawab. Sepasang matanya mendelik angker menatap pada murid Pendeta Sinting Pendekar 131 tampak mainkan jari kelingkingnya ke dalam lobang telinganya. Lalu seakan tidak acuhkan pandangan marah orang, dia berucap. |Kau nanti pasti akan kecewa. Karena berapapun pertanyaan yang akan kau ajukan, aku hanya bisa menjawab satu!| |Bercandalah sepuasmu sebelum mampus!| ujar Daeng Upas lalu arahkan pandangannya kembali pada pemuda bertangan buntung. |Edan!| gumam Raka Pradesa. |Dalam keadaan begitu, masih sempatnya mengajak bercanda!| Pemuda ini berlama-lama memandangi murid Pendeta Sinting. Namun tatkala Joko balik memandangnya, pemuda berkumis tipis ini cepat alihkan pandangannya. Diam- diam dia membatin. |Siapa gadis berbaju hijau itu? Sepertinya mereka belum kenal betul. Tapi mengapa melindunginya? Apakah dia tertarik pada Pendekar 131?| Tidak mendapat jawaban pasti dari pertanyaan- nya, pemuda berkumis tipis ini arahkan pandangannya pada Dewi Siluman dan Ki Buyut Pagar Alam. |Perempuan dan kakek itu kudengar memiliki kepandaian tinggi. Hem.... Ada silang sengketa apa mereka dengan Joko? Sekarang apa yang harus kulakukan? Joko tampaknya terluka dalam cukup parah. Kalau aku mengajaknya pergi, semua orang yang ada di sini tentu tidak akan tinggal diam! Ah....| Pemuda ini lalu berpaling pada Daeng Upas yang saat itu melangkah ke arah pemuda bertangan buntung. |Pemuda buntung! Kau dengar kata-kataku. Apa kau ingin kakimu buntung sekalian, hah?!| “Nenek cantik. Tega-teganya kau berkata begitu tanpa tangan saja aku sudah menderita. Bagaimana kalau kakiku buntung juga?!| “Bagus berarti kau masih sayang anggota tubuhmu!| |Ah.... ini adalah barang titipan Tuhan, sudah selayaknya kusayang-sayangi. Dan tak akan kubiarkan siapapun mengambilnya!| Daeng Upas tertawa panjang. |Tidak ada hal sulit bagiku mengambil barang apa pun! Termasuk kedua kakimu. Tapi aku masih berbaik hati jika kau segera enyah dari sini!| Pemuda bertangan buntung ikut-ikutan tertawa panjang. |Kalau kau gampang mengambil barang apa pun. Apa sukarnya bagiku mempertahankan barang milikku?| |Jahanam! Kau benar-benar minta mampus!| hardik Daeng Upas. Ucapannya belum selesai, sosoknya telah melesat ke depan. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi dan kirimkan jotosan kanan kiri sekaligus. Kalau nenek ini bisa melepas jotosan dari jarak jauh dengan lawan bisa dibuat terjengkang, bisa dibayangkan jika jotosan itu betul-betul menghantam sasaran! Karena lesatan sosok Daeng Upas bergerak tiba-tiba, maka kali ini tidak ada kesempatan lagi bagi pemuda bertangan buntung untuk menghindar. Dan karena tidak punya kedua tangan untuk menangkis jotosan, semua orang yang melihat sama menduga apa yang hendak menimpa si pemuda. Namun semua orang dibuat jadi melengak. Pemuda bertangan buntung tiba-tiba lipat tubuhnya ke depan terus ke bawah. Lalu... Wuuuttt! Kini sepasang kaki berada di atas, kepala di bawah menopang tubuhnya. Kejap lain mulutnya menguncup menyedot. Duuuttt! Duuttt! Duuttt! Terdengar suara tiga kali berturut-turut. Karet bundar yang sedari tadi mengapung di udara melesat cepat dan masuk ke dalam mulutnya. Saat bersamaan, kedua kakinya bergerak membuat sikap seperti orang bersila. Buukkk! Buuukkk! Sepasang tangan Daeng Upas beradu dengan sepasang kaki pemuda bertangan buntung. Daeng Upas tampak tegak dengan tubuh bergoyang-goyang keras. Raut wajahnya berubah. Malah kedua tangannya yang baru saja bentrok bergetar, membuat nenek ini geram bukan main. Didahului bentakan melengking, sosoknya melorot ke bawah hingga kedua lututnya menekuk. Tiba-tiba sambil bertumpu pada telapak tangannya, sepasang kakinya mencuat ke depan lepaskan tendangan ke wajah si pemuda! Di depannya, kepala si pemuda yang dibuat untuk menopang tubuhnya tampak bergoyang-goyang, membuat sosok sang pemuda ikut-ikutan bergoyang. Kejap kemudian kepalanya tampak bergerak menggeser ke belakang. Melihat kepala si pemuda bergeser ke belakang menghindari tendangan, Daeng Upas cepat melompat depan. Dan dengan masih bertumpu pada telapak tangannya, sepasang kakinya teruskan tendangan. Saat itulah, karena kepalanya terdorong ke belakang sepasang kaki si pemuda bergerak lurus ke bawah. Daeng Upas mendelik angker. Semua orang yang melihat terkesiap. Karena tiba-tiba gerakan kaki si nenekk tertahan oleh sepasang kaki pemuda yang kini menggapitnya. Malah bukan hanya sampai disitu. Begitu kakinya berhasil menggapit sepasang kaki si nenek, pemuda bertangan buntung gerakkan kepalanya lagi ke depan sambil meniup. Bundaran karet mencuat keluar. Namun bersamaan itu menderu angin kencang. Daeng Upas berteriak nyaring. Dewi Siluman mendengus. Raka Pradesa cepat palingkan kepalanya, demikian juga gadis berbaju hijau yang kini telah bangkit. Ki Buyut tampak alihkan pandangannya pada jurusan lain. Hanya murid Pendeta Sinting yang tidak alihkan pandangannya pada jurusan lain, malah dia tertawa bergelak sambil berkata. |Nek! Untung kau masih mengenakan rangkapan pakaian dalam. Jika tidak... pasti aku akan melihat pemandangan sangat luar biasa! Nyatanya pahamu masih mulus meski di sana-sini tampak bekas kudisan....| |Jahanam kurang ajar!| teriak Daeng Upas sambil gerakkan kedua tangannya mengibaskan pakaian bagian bawahnya yang berkibar-kibar tersapu tiupan pemuda bertangan buntung hingga tubuh bagian bawah sampai hampir pantat si nenek terlihat jelas. Saat kedua tangan Daeng Upas bergerak kibaskan pakaiannya, pemuda bertangan buntung gerakkan kakinya ke atas. Sosok si nenek ikut bergerak ke atas. Merasa geram dan malu, Daeng Upas cepat gerakkan kedua tangannya sambil doyongkan tubuh ke depan. Laiu menghantam kedua kaki si pemuda yang masih menggapit kakinya. WuuttU Wuuuttt! Sejengkal lagi tangan Daeng Upas meremukkan kedua kaki si pemuda. Pemuda ini lepaskan gapitannya. Lalu cepat tarik pulang kakinya ke belakang dan kini tegak memunggungi dengan bertumpu pada kedua ibu jari kakinya! Sementara Daeng Upas sendiri tampak tercekat. Hantaman kedua tangannya melabrak tempat kosong. Dan kini tubuhnya melayang deras ke bawah! Sebenarnya Daeng Upas bukanlah orang ber- kepandaian rendah meski selama ini dia coba sem- bunyikan kepandaiannya pada orang lain. Malah terhadap Dewi Siluman, anak tunggalnya sendiri dia tidak mau menunjukkan. Namun karena saat itu hawa kemarahan lebih memegang kendali pikirannya, maka nenek itu tampak bisa dibuat main-main oleh pemuda bertangan buntung. Tapi saat tubuhnya melayang deras ke bawah, ibu Dewi Siluman ini tidak mau berbuat ayal. Setengah tombak lagi tubuhnya menghantam tanah, tiba-tiba ia membuat gerakan berputar dan serta-merta lepaskan pukulan dari atas udara pada pemuda bertangan buntung yang kini tegak di hadapannya memunggungi! Gelombang angin luar biasa kencang menderu keras ke arah si pemuda. Terdengar suara duutt! duutt! duuuttt! Tiga kali berturut-turut. Lalu sosok si pemuda terangkat satu tombak ke uclara. Kedua kakinya membuat sikap bersila. Lalu bergerak pulang-balik ke depan ke belakang laksana orang berayun-ayun. Pada saatat bersamaan, gelornbang angin melasat susul menyusul seiring gerakan kaki si pemuda Bummmmmm !! Ledakan keras terdengar ketika gelombang angin yang dilepas Daeng Upas betermu angin yang melesat dari gerakan kaki bersila si pemuda bertangan buntung. Daeng Upas terdorong sampai satu tombak ke belakang, namun nenek ini mendarat di atas tanah dengan kaki tegak meski wajahnya tampak berubah pucat. Di depan sana, sosok pemuda bertangan buntung terpental namun setelah membuat gerakan berputar dua kali, dia menjejak tanah dengan tubuh tegak bertumpu pada ibu jari kakinya! Wajahnya yang tampan pias, gerakan kembang-kempis mulutnya yang menyedot bundaran karet makin keras, hingga suara Duutt! Duuutt! Duuuttt! Terdengar beberapa kali. |Pemuda gila ini kalau dibiarkan bisa membuat celaka!| desis Daeng Upas. Lalu nenek ini membuat gerakan berputar-putar. Kejap itu juga dari tubuhnya mengepul asap makin lama makin banyak dan berputar- putar seiring putaran si nenek. Saat lain mendadak Daeng Upas berseru keras. Asap yang berputar-putar mengelilingi tubuhnya bergerak keluar dan berputar- putar cepat ke arah pemuda di hadapannya. |Kau tak akan lotos dari pukulan maut 'Angin Keranda', Pemuda gila!| seru Daeng Upas sebutkan pukulan yang kini melabrak ke arah si pemuda dengan tegak kacak pinggang dan senyum menyeringai. Si pemuda sontak putuskan sedotan mulutnya. Sepasang matanya membeliak. |Ha?! Kau benar-benar ingin mengambil kedua kakiku!| ujar si pemuda dengan suara bergetar setelah meniup hingga bundaran karet di mulutnya terapung di depan kepalanya. Daeng Upas tertawa mengekeh. |Bukan hanya kakimu, tapi sekaligus selembar nyawamu!| Sambil gelengkan kepala, si pemuda bertangan buntung doyongkan tubuh ke belakang. Tiba-tiba tu- buhnya disentakkan kembali ke depan. Beeetttt! Dari dada si pemuda melesat bongkahan awan putih yang keluarkan suara luar biasa keras hingga menusuk gendang telinga. Kejap kemudian tempat itu laksana diguncang gempa hebat. Tanah bermuncratan ke udara. Pohon-pohon di sekitarnya berderak lalu tumbang karena tanahnya rengkah akibat guncangan. Suara tawa Daeng Upas terputus laksana disambar setan. Sosoknya terpental sampai dua tombak ke belakang. Untung Ki Buyut masih sempat berkelebat dan menahan tubuhnya hingga selamatlah tubuh si nenek dari terjengkang roboh menghempas tanah. Namun tak urung dari mulutnya keluar cairan merah pertanda dia telah terluka dalam. Setelah salurkan tenaga dalamnya, Daeng Upas segera dapat tegak kembali meski sosoknya masih bergetar. Di depan sana, sosok si pemuda tampak terkapar di atas tanah. Raut wajahnya makin pias. Keringat membasahi tubuhnya dari kepala sampai kaki. Dari sudut mulutnya tampak pula mengalir darah. Anehnya, bundaran karet masih tetap mengapung di udara di tempat mana tadi si pemuda bertangan buntung tegak berdiri! |Huh.... Mana dotku!| tiba-tiba si pemuda meng- gumam. Lalu mulutnya membuat gerakan menyedot. Karet bundar yang mengapung laksana ditarik kekuatan aneh lalu bergerak ke arah si pemuda dan kejap lain telah berada di mulut si pemuda. Saat bersamaan, sepasang kakinya menekuk. Sekali sentak, tubuhnya terangkat ke atas. Terhuyung sejenak namun tak lama kemudian diam dengan mulut mainkan karet bundar! |Astaga! Kemana mereka?!| Tiba-tiba Ki Buyut berbisik pada Daeng Upas yang berada di sampingnya. Daeng Upas pentangkan matanya lalu memandang berkeliling. Tubuhnya serentak bergetar keras. Ternyata Pendekar 131 dan gadis berbaju hijau tidak ada lagi di tempat itu. Pemuda berpakaian hitam-hitam berkumis tipis pun tidak tampak lagi. Demikian juga Dewi Siluman. |Ki Buyut! Lekas cari Durga Ratih! Kukira dia mengikuti lenyapnya pemuda berpakaian putih tadi! Dan jika kau berhasil menangkap pemuda itu, jangan kau bunuh. Aku harus bicara dahulu dengannya. Aku akan selesaikan pemuda gila buntung itu! Dia sangat bahaya jika dibiarkan hidup!| Tanpa berkata lagi, Ki Buyut segera berkelebat tinggalkan tempat itu. Sebenarnya Ki Buyut tidak mau tinggalkan tempat itu. Dia tampak meragukan kakaknya bila berhadapan sendiri dengan pemuda bertangan buntung. Namun karena dia tahu bagaimana sifat kakaknya, lagi pula Dewi Siluman tidak boleh dibiarkan pergi sendirian karena saat ini banyak tokoh-tokoh yang muncul dan belum bisa diketahui apa tujuannya, akhirnya kakek berjubah hitam ini berkelebat pergi. Sepasang mata Daeng Upas menyengat pandangi pemuda buntung, satu-satunya yang masih ada di tempat itu. Dengan pasang tampang angker, dia membentak. |Gara-gara ulahmu, urusan jadi berantakan! Aku tak akan tinggalkan tempat ini sebelum membuatmu mampus tiga kali!| |Ah. Rupanya kau tahu jika aku punya nyawa rangkap tigal Tapi sayang hari ini aku tidak suka berbagi nyawa denganmu meski satu pun!| jawab si pemuda. Habis berkata begitu, sosoknya melenting satu tombak ke udara. Dengan gerak cepat, kakinya bersila ke bawah, lalu diayunkan ke depan. Gelombang angin menderu cepat, bukan langsung ke arah Daeng Upas, melainkan yang dituju adalah tanah di depan si nenek. Namun Daeng Upas ternyata salah duga. Dia mengira si pemuda menyerang ke arahnya, hingga dengan menggembor keras dia sentakkan kedua tangannya memapak gelombang angin yang datang. Bummm! Tanah terbongkar muncrat ke udara. Saat itulah baru si nenek sadar. Dia cepat angkat tangannya kembali dan didorong ke arah depan. Namun tangan si nenek tertahan di udara. Karena sepasang matanya tidak menangkap lagi sosok pemuda bertangan buntung! |Jahanam keparat!| maki Daeng Upas sambil banting- kan kaki. Kepalanya lalu didongakkan, mulutnya terbuka berteriak. |Pemuda buntung gila! Kau adalah tambahan korban yang harus mampus di tanganku!| Habis berteriak, kedua tangannya yang berada di udara disentakkan ke depan dengan tampang membesi dilanda hawa amarah lagi. Yang jadi sasaran kemarahannya adalah pohon- pohon di depan sana. Pohon-pohon itu berkeretekan lalu perlahan-lahan tumbang perdengarkan suara berdebam- debam. Daun dan tanah yang tertimpa pohon bertabur ke udara. Saat suasana lengang kembali, sosok Daeng Upas tidak terlihat lagi di tempat itu.
This Book was ranked at 30 by Google Books for keyword cerita hantu.
Book ID of Joko Sableng 08 - Tabir Asmara Hitam's Books is 791vDwAAQBAJ, Book which was written byZhaenal Fananihave ETAG "nWdl7v1wvSM"
Book which was published by Sultannara since 2018-09-23 have ISBNs, ISBN 13 Code is and ISBN 10 Code is
Reading Mode in Text Status is true and Reading Mode in Image Status is true
Book which have "107 Pages" is Printed at BOOK under Category
This Book was rated by Raters and have average rate at ""
This eBook Maturity (Adult Book) status is MATURE
Book was written in id
eBook Version Availability Status at PDF is true and in ePub is true